Sekapur Sirih

Selamat datang di Cerita Kehidupan...
Terima kasih telah mengunjungi saya di sini...
Blog ini berisi catatan-catatankecil saya, tulisan-tulisan saya selama ini, baik berupa tulisan fiksi, nonfiksi, atau pun hanya catatan ringan..
Sebelum membuka blog ini lebih jauh, Anda diharapkan:
1. Jangan meng-copypaste tulisan di blog ini tanpa menyertakan link alamat blog ini http://ceritahidupdaning.blogspot.com seperti saya juga akan menyertakan link blog yang saya copypaste jika saya meng-copypaste tulisan orang lain
2. Menghargai tulisan-tulisan di blog ini adalah hasil karya seseorang yang dibuat sepenuh hati
3. Berilah komentar dengan hati nurani dan jujur agar saya bisa lebih baik dalam menulis di blog ini
Demikian, terima kasih telah meluangkan waktu membaca catatan kecil saya....

Minggu, 09 Oktober 2011

Sisa Masa Lalu

Aku masih ingat jejak masa lalu
Enggan beranjak dari hati

Purnama meninggalkan malam
Mentari meninggalkan siang
Entah bintang ada
Entah bintang tak pernah ada

Lalu, kekinian membayang
Seekor merpati menyapa
            hanya menambatkan angan
           
Aku ingat sisa masa lalu
Ketakutan menjalar
Hati tertekan

Sisanya, sebuah pengharapan hidup lebih layak

Semarang, Maret 2007

Hitam

Duka dan airmata
bekas masa lalu terpatri
akankah debu menyelimutinya?
Lembaran biru berganti warna
mendendangkan kerinduan pada keabadian
Bermain bersama debu dan angin
tak tahu tersangkut di mana
Bias pelangi tak lagi ceria
Ah, semua hitam.

Kartu-kartu itu mungkin masa depan
tapi, apakah itu harapan?

Duka dan airmata
bekas masa lalu terpatri
berputar dalam riuhnya pasat
Keabadian datang cepat
Menghempas semua warna
Aku tersesat…

Magelang, November 2003

Hari-hariku Berkabung: Terpasung!

Hitam kupandang
dan hari-hariku berkabung
Tali boneka mengikat erat
menghimpit  gerak waktu
sesak ku nafas

Langkahku bukan langkahku
Kataku bukan kataku
Senyumku simpul dukaku
Duniaku bukan duniaku

Hari-hariku berkabung

Airmata tak pernah lagi keluar
Manisnya pun menghilang
Menurut carmantel terjulur di depan
dan…
hari-hariku berkabung;
Terpasung!

Semarang, 6 Desember 2004

Dari Jogja

Dari Jogja rupamu datang
membekas dalam kenangan akan suara-suara
tiap malam menyapaku

Sebuah lagu mewarnai detak Karangmalang
Kubawa ke sela daun tembakau
            ― di sana senyuman mengharumkan tanah
Kudekap hawa itu ke puncak Sekaran
            ― di sana angan dan cita berpacu dengan waktu

Dari Jogja aku berlagu
membelai waktu dengan senyum
pelan menghampiri dunia
dan akan terus ada…

Jogjakarta-Semarang, April 2006

Hati-Hati Tertutup

Senyap menemaniku sejak waktu itu
Melewati senja-senja tanpa hawa
Getir melampaui lidah

Entah angin membawa daun melaju
Atau batu-batu memukul ranting
Aku tak mampu larut dalam langkahnya

Surya memancarkan sinarnya
Tapi, aku tak merasa hangat

Aku mencari-cari jalan
Meraba hati-hati di sepanjangnya
Sayang, ruang itu masih tertutup

Semarang, 17 Maret 2007

Pendar-Pendar Cahaya

Pendar-pendar merambat lewat beludru hitam
Melayang selayak bintang memandu alam

Gemuruh menjadi sebuah ikatan
Bergulir dari kaki-kaki yang merambah senyuman

Kejujuran mengalir mengawali untaian makna
Lalu, satu per satu gugur seiring gerak dedaunan
Bahkan angin merajuk pada hati

Cahaya memancar
Irama bergetar

And the moonlight goes in to the window
Like a line in a pillow;
To see how much it make us brave
To get what we want to be

Tapi cahaya kembali menjadi pendar
Terantuk karma di hadapan mata
Bintang melambung
Limbung
Hati terkatung

Senyum meraih pahit
Kepala tegak memandang langit,
Kelabu!

Semarang, 15 Maret 2007

Aku Perempuan

Namaku Perempuan. Hidup dalam lingkaran langit, bumi, dan semesta. Nafasku adalah asap yang mengudara di cerobong. Suaraku adalah denting gelas beradu.
Aku Perempuan. Tunduk pada nasib di tangan lelaki. Menuruti adat dan  tradisi. Hati adalah teman sejati.
Kodratku bermain dibatasi dinding. Senyum menutup luka. Tegar menyelimuti duka. Tanpa harus melihatkan hati.
Tapi, aku adalah Perempuan. Aku mencintai matahari yang tiap pagi menyapaku. Aku menyayangi purnama dan bintang yang menemani malamku. Aku menghirup udara yang bermain di sekitarku.
Aku adalah Perempuan. Bebas berangan tentang langit. Bebas berlari menembus awan. Bebas bermain dengan abjad dan angka.
Dan, aku Perempuan. Perempuan yang mencintai daging dan darah. Perempuan yang mengasihi air dan tanah. Perempuan yang mencumbui angan dan harapan. Perempuan yang mau berbagi kehidupan. Perempuan yang menghidupkan kehidupan.
Perempuanku bukanlah dinding pembatasku dengan dunia. Perempuankulah jalanku menuju semesta. Menguasai semesta. Merengkuh cahaya.
Aku perempuan. Tak takut pada sengatan mentari. Tak takut sapuan badai. Aku adalah matahari. Aku adalah badai. Aku siap menantang dunia.
Aku perempuan. Aku berdiri di dua dunia. Duniaku. Langit dan bumi. Tradisi dan modernisasi. Kodrat dan harapan.
Lemahku adalah kekuatanku. Tekadku adalah bekalku. Menggapai langit. Menyentuh modernisasi. Menggenggam harapan.
Mandiriku adalah semangatku. Senyumku adalah perangkatku. Memeluk bumi. Menjunjung tradisi. Menjalani kodrat hakiki.
Aku perempuan. Perempuan tradisi. Perempuan masa kini. Keduanya membaur dalam raga. Keduanya bersatu dalam sukma.
Aku bangga jadi perempuan!